Tampilkan postingan dengan label Kesehatan Masyarakat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesehatan Masyarakat. Tampilkan semua postingan

Senin, 17 Maret 2014

MEROKOK MEMANG HAK SETIAP MANUSIA SEBAGAI SEORANG INDIVIDU. NAMUN MELALUI ARTIKEL INI PENULIS MENGAJAK PARA PEROKOK UNTUK BERPIKIR LEBIH LUAS SERTA BIJAK, TENTANG KONSEKUENSI HIDUP JANGKA PANJANG. PEROKOK TIDAKLAH HIDUP SENDIRI, SETIDAKNYA MEMILIKI KELUARGA YANG MEREKA SAYANGI.


1. ALASAN DARI KEBANYAKAN ORANG MEROKOK
Kalau di jaman penulis dulu, pada umumnya remaja mulai berani merokok pada usia SMP, itupun sambil sembunyi-sembunyi. Termasuk penulis sendiri dulu mulai merokok ketika SMP kelas 2, sampai akhirnya penulis berhenti total merokok ketika masih SMA kelas 2. Seperti alasan kebanyakan temen-temen yang lain ketika itu, alasan merokok di kala memasuki usia-usia puber itu adalah tak lain dan tak bukan sekedar motivasi secara psikologi ingin dianggap keren dan jantan. Sama juga seperti alasan ketika waktu itu nindik kuping pake anting, sering tawuran, gampang berantem, dan lain-lain. Sedangkan mereka yang menolak merokok diteriakin banci, bentuk dari bullying !!!
 26819698_d5ea655bcb 

Nah berawal dari ngerokok niatnya sebagai tuntutan pergaulangan, terus secara psikologis pengen dianggap keren, pengen dianggap laki, pengen dianggap macho, pengen dianggap jantan. Akhirnya kebablasan jadi kebiasaan dan akhirnya ya berujung pada kecanduan rokok!. Karena memang rokok punya kandungan-kandungan zat adiktif yang bersifat mencandu, seperti halnya zat adiktif yang terdapat pada narkoba. Hanya saja bedanya kalau pada rokok tingkat adiktifnya gak sampe level sakaw macem narkoba. Yang hanya merasakan galau, kurang nyaman, bibir rasanya pahit, kurang tenang, dll. Nah kalau gak segera berhenti merokok, akhirnya umumnya keterusan sampai tua, bahkan sampai usia renta. Anak cucu pun bisa menirukan, bukan contoh yang baik!
Rokok dan narkoba sama-sama merugikan, sama-sama merusak tubuh. Bedanya, narkoba tingkat merusaknya lebih cepat. Kecepatan merusak antara narkoba dan rokok seperti perbandingan kecepatan motor 250 cc dengan 125 cc, namun keduanya akan sampai ke jurang finish yang sama, yaitu kehancuran!

MEROKOK ADALAH BERINVESTASI PENYAKIT MASA DEPAN


2. ANTARA IKLAN DAN KENYATAAN MENJADI PECANDU ROKOK

Tidak bisa dipungkiri betapa besar peran iklan untuk menjaring konsumen rokok. Di Indonesia iklan rokok penuh sesak memenuhi berbagai media, dari iklan televisi, iklan cetak sampai sponsor olahraga. Iklan rokok membuai para perokok dengan berbagai imajinasi karakter. Padahal, jika mau ditelaah dengan akal sehat dan objektifitas, imajinasi persuasif yang ditawarkan iklan dengan kenyataan yang ada berbeda 180 derajat!

PEROKOK TANGGUH, JANTAN DAN PEMBERANI ITU HANYA DI IKLAN

 

5289377_20140128055321

(1) Ketika kalian sudah kecanduan sama rokok, semakin lama stamina tubuh akan berkurang, karena racun-racun dalam kandungan rokok terus ‘menggerogoti’ tubuh kalian. Salah satu buktinya adalah dari hasil sekian banyak pembedahan medis terhadap tubuh perokok dan non-perokok hasilnya sangat nyata, pecandu rokok paru-parunya menghitam dan banyak terdapat kerusakan. Jadi jangan heran ketika seorang perokok apalagi pecandu rokok selalu ngos-ngosan tiap kali lari atau kerja berat, otomatis kerja gak maksimal. Inikah tangguh?
(2) Residu rokok yang mengendap seperti lemak di saluran pembuluh darah sudah tentu mempersulit kelancaran aliran darah ke seluruh tubuh kalian. Buruknya kualitas pernafasan dan aliran darah kerap menjadikan perokok menjadi pria impoten yang loyo dan pecundang di ranjang. Gak bisa ereksi plus ejakulasi dini. apakah bisa dianggap macho dan jantan? Sebagian cari solusi instant, yaitu obat kuat yang berbahaya bagi jantung. Suami yang baik tentunya tidak boleh egois, istri juga ingin merasakan kepuasan biologis. Banyak kasus istri menderita secara psikologi karena suaminya impoten. Karena rasa cinta mereka pura-pura puas agar suami tidak minder. Pecandu rokok gak mikir hal ini !!!. Sayang sama istri ? Berhentilah merokok sekarang!
Tahukah kalian bahwa Eric ‘Marlboro Man’ Lawson yang merupakan bintang iklan rokok ternama, meninggal akibat gagal pernafasan karena mengidap penyakit paru obstruktif kronik (COPD). Begitu pula rekan-rekannya bintang iklan rokok lainnya yang meninggal karena penyakit-penyakit terkait rokok, seperti efisema.

MEROKOK TERLIHAT KEREN ITU HANYALAH PSIKOLOGIS PADA MASA PUBER



MEROKOK BIKIN ORANG BERKESAN “SMART” ITU HANYA IKLAN

 

5289377_20140129062248 
Teringat ucapan temen: “Kalau ternak itu kambing atau sapi. Jangan bodoh diternak”
Beberapa produsen rokok yang levelnya sudah mature atau mapan, kerap menghadirkan iklan rokok yang menampilkan karakter-karakter model iklan yang smart atau cerdas bahkan jenius. Iklan tipe soft sell seperti ini mencoba merpersuasif audiensnya untuk merasa seperti karakter dalam iklan yang ada, berpikiran cerdas, jenius dan yang semisalnya. Sehingga di bawah alam sadar mereka akan muncul mindset bahwa rokok yang diiklankan tersebut adalah rokoknya orang-orang yang cerdas, atau jenius atau berintelektual tinggi. Padahal mau ngehabisin rokok segudang pun, tidak akan menyulap kita jadi seperti di iklan rokok.
video 97 detik yang luar biasa


BANYAK DARI PECANDU ROKOK BERSIKAP EGOIS HINGGA IRASIONAL

5289377_20140129064154

 

ROKOK DAPAT MEMATIKAN HATI NURANI DAN MEMUNCULKAN SIKAP TIDAK RASIONAL



Pecandu rokok sering menjadi orang yang egois dan tidak punya tenggang rasa terhadap orang disekitarnya. Contoh mudahnya merokok di area publik tanpa peduli ada non-perokok di sekitarnya yang terganggu, semisal di angkutan umum, di rumah makan, dll. Norma dan sopan santun yang semula dimiliki, terkadang lenyap setelah kecanduan rokok, berubah menjadi sikap yang cuek atau masa bodoh. Realita

TANPA ROKOK GAK BISA MIKIR HANYALAH SUGESTI KECANDUAN

 




dr31gl
Salah satu pembelaan terakhir dari pecandu rokok adalah berpendapat bahwa tanpa rokok mereka tidak bisa mikir dengan bener, gak bisa konsentrasi, dll. Kenyataannya sebaliknya, candu rokok malah membuat perokok jadi mikir gak bener, contohnya: siap menantang bahaya sakit keras bertahun-tahun sampai mati daripada gak merokok, padahal punya anak istri. Sama kasusnya kaya atlit milih pake obat doping ketimbang bekerja keras latihan keras untuk berprestasi. Penulis mantan perokok, berhenti rokok malah meningkatkan kualitas. Buktinya penulis dapat menyelesaikan projek-projek kampus tanpa merokok. Banyak cara untuk dapat rileks tanpa harus merusak tubuh kita dengan racun. Banyak cara untuk dapat tenang dan fokus tanpa harus merelakan kesehatan yang telah Tuhan Yang Maha Esa berikan kepada kita. Sangat banyak orang ketika mereka belum merokok, mereka bisa berpikir dengan tenang, dengan fokus dan berprestasi. Namun setelah kecanduan, seolah mereka tak bisa hidup tanpa rokok. Tidak bisa rileks tanpa rokok itu hanyalah sugesti yang negatif.


3. RENUNGAN DAN MOTIVASI BERHENTI MEROKOK
 
Namun terkadang susahnya menyadarkan seorang yang sudah kecanduan rokok adalah mereka terus mencari pembenaran-pembenaran yang terkadang memakai alasan-alasan yang irasional dan bahkan konyol jika dinalar akal sehat yang kadang jadi debat kusir.
5289377_20140130065537315ob5h


4. HARGAILAH DIRI KALIAN SENDIRI DAN ORANG LAIN

Rokok dengan berbagai kandungannya yang penuh racun, tak hanya akan ‘meracuni’ diri kalian, namun juga dapat ‘meracuni’ dan menyakiti orang-orang disekitar kalian, termasuk orang-orang yang kalian sayangi. Paparan asap rokok yang agan tiupkan akan meracuni orang di sekitar kalian sebagai perokok pasif, bahkan termasuk racun-racun yang telah mengendap dan menempel di baju kalian setelah habis merokok itu masih bisa meracuni orang-orang disekitar kalian secara perlahan-lahan. Terlebih lagi jika di sekitar kalian terdapat balita dan anak-anak yang imunitas mereka tidak sekuat orang dewasa. Ketika perokok pasif dewasa saja dapat beresiko menderita berbagai penyakit berbahaya ketika berada di sekitar perokok aktif, apalagi resikonya bagi balita dan anak-anak. Menyakiti diri sendiri saja kelak akan dimintai pertanggung jawaban, apalagi ditambah menyakiti orang lain.

5289377_20140218071710

 

JIKA KITA ADALAH ORANG YANG BIJAK DAN BERSIKAP DEWASA, SUDAH SEHARUSNYA PENGALAMAN ORANG LAIN SEPERTI YANG ADA DI ATAS SEBAGAI PELAJARAN BERHARGA DAN BUKAN BERSIKAP BEBAL ATA

 

5. BERBAGAI MOTIVASI TAMBAHAN UNTUK BERHENTI MEROKOK


KALIAN AKAN MENJADI PANUTAN YANG BAIK UNTUK ANAK, KELUARGA DAN LINGKUNGAN
KALIAN DAPAT HIDUP LEBIH SEHAT, BEGITU PULA KELUARGA DAN LINGKUNGAN KALIAN
KALIAN MENURUNKAN RESIKO TERKENA PENYAKIT BERBAHAYA DAN JUGA KRONIS
KEUANGAN KALIAN AKAN MENJADI LEBIH BAIK DAN KALIAN LEBIH BIJAK MENGGUNAKANNYA
KALIAN AKAN LEBIH DIHARGAI LINGKUNGAN, KETIKA KALIAN BISA MENGHARGAI ORANG LAIN
 
 
Sumber : Kaskus.co.id & Pengalaman Pribadi Penulis

Jumat, 17 Januari 2014

Gizi buruk dan Metode Penentuan Status Gizi

  Pengertian status gizi menurut Almatsier (2009), adalah keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi makanan dan penggunaan zat-zat gizi. Yang dibedakan antara status gizi buruk, kurang, baik dan lebih. Status gizi baik atau optimal terjadi apabila tubuh memperoleh cukup zat-zat gizi yang digunakan secara efisien, sehingga memungkinkan pertumbuhan fisik, perkembangan otak, kemampuan kerja dan kesehatan secara umum pada tingkat setinggi mungkin, jika keadaan sebaliknya terjadi gizi kurang.
Akibat gizi buruk pada balita dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan dan perkembangan. Pada tingkat kecerdasan karena tumbuh kembang otak 80% terjadi pada masa dalam kandungan sampai usia 2 tahun. Pada anak yang pendek (stunted) mempunyai rata-rata score Intelligence Quotient (IQ)11 poin (UNICEF, 1998), kemudian di perkirakan Indonesia kehilangan 220 juta IQ poin dan menurunkan produktivitas 20-30%.
Menurut Almatsier (2009), masalah gizi umumnya disebabkan oleh kemiskinan, kurangnya ketersediaan pangan, kurang baiknya sanitasi, kurangnya pengetahuan tentang gizi, menu seimbang dan kesehatan. Banyak penelitian yang mengungkapkan bahwa faktor sosio-budaya sangat berperan dalam proses konsumsi pangan dan terjadinya masalah gizi. Kebiasaan makan keluarga dan susunan hidangannya merupakan salah satu manifestasi kebudayaan keluarga yang disebut gaya hidup. Unsur-unsur budaya mampu menciptakan suatu kebiasaan makan yang kadang bertentangan dengan prinsip-prinsip ilmu gizi.

Upaya penanggulangan yang telah dilakukan oleh pemerintah antara lain seperti peningkatan akses dan mutu pelayanan gizi melalui program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) atau Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MP-ASI), tatalaksana gizi buruk di puskesmas perawatan dan rumah sakit, serta Kadarzi atau pemberdayaan masyarakat melalui keluarga sadar gizi.
Untuk melakukan penilaian status gizi, dilakukan dengan penilaian status gizi. Penilaian status gizi dapat dilakukan secara langsung maupun tidak langsung. Penilaian langsung dibagi menjadi empat penilaian meliputi : antropometri, klinis, biokimia dan biofisik. Sedangkan tidak langsung meliputi survei konsumsi makanan, statistik vital dan faktor ekologi. Metode yang sering digunakan di masayarakat untuk menentukan status buruk pada balita adalah antropometri dan survei konsumsi makanan Berikut penjelasan salah satu metode diatas menurut Supariasa (2002): 

Antropometri gizi :
Antropometri gizi berhubungan dengan berbagai macam pengukuran dimensi dan komposisi tubuh dari berbagai tingkat umur dan tingkat gizi, diantaranya :
  1. Umur (U) merupakan faktor yang sangat penting dalam penentuan status gizi. Kesalahan penentuan umur akan menyebabkan interpretasi status gizi menjadi salah. batasan umur untuk anak adalah umur 0-2 tahun digunakan bulan usia penuh.
  2. Berat Badan (BB) merupakan ukuran antropometri yang menggambarkan jumlah dari protein, lemak, air dan mineral pada tulang. Sensitif terhadap perubahan dalam waktu singkat oleh perubahan-perubahan konsumsi dan kesehatan. Akan menggambarkan status gizi sekarang dan pertumbuhan jika dilakukan secara periodik.
  3. Tinggi Badan (TB) merupakan ukuran antropometri menggambarkan keadaan yang telah lalu dan keadaan sekarang, jika umur tidak diketahui dengan tepat (Supariasa, 2002). Untuk Anak balita TB berumur 0-2 tahun yang diukur pada posisi berdiri koreksinya ditambah 0,7 cm dan yang berumur 2-5 tahun yang diukur pada posisi berbaring koreksinya dikurangi 0,7 cm (WHO, 2006).


Sumber : >> Klik Disini <<

Rabu, 15 Januari 2014


Apa Yang Perlu Diketahui Pasien Cerdas??

Beberapa instruksi dokter penting untuk menjaga kesehatan anda. Dokter juga berjasa membantu tubuh anda agar sembuh dan tetap sehat. Namun dokter juga manusia. Kadang ditengah kesibukan mereka, para Dokter mungkin tidak selalu mendapat info langsung mengenai temuan medis terbaru dalam penemuan-penemuan medis beberapa tahun terakhir.

Saya yang juga seorang Dokter menyadari hal ini. Maka thread ini saya buat dengan menyisir sejumlah hasil penelitian terbaru untuk memuat saran-saran medis apa saja yang mungkin sudah tidak update yang sering disampaikan rekan sesama Dokter kepada anda


Quote:
1. Dahulu selesai makan, langsung sikat gigi.

Banyak dokter gigi menyarankan pasien mereka menggosok gigi sesegera mungkin setelah makan untuk menyingkirkan penyebab plak. Survei American Dental Association menunjukkan bahwa 9 dari 10 warga AS percaya hal tersebut.


Spoiler for Yang Terbaru:




Berkumurlah dengan air setelah makan, tetapi tunda sekitar 30 menit sebelum menyikat gigi. Langsung menyikat gigi dapat berbahaya bagi kesehatan gigi karena kandungan asam dari makanan dan minuman bisa menggerus lapisan email gigi jika langsung digerus. Hal tersebut malah membawa kerusakan pada gigi ujar Steven Ghareeb, juru bicara Academy of General Dentistry.

2. Dahulu jika ingus berwarna hijau, itu pertanda infeksi bakteri.

Banyak dokter beranggapan demikian karena secara klinis, infeksi bakteri saat kita flu memang menghasilkan ingur berwarna hijau/kekuningan. Sehingga tidak jarang dokter memberi antibiotik untuk mengatasi hal tersebut. Namun ternyata tidak semua ingur berwarna itu menandakan infeksi bakteri.


Spoiler for Yang Terbaru:




Jangan memaksa Dokter anda untuk meresepkan antibiotik jika keluhan anda hanya flu. Lendir berwarna bisa jadi hal yang normal. Untuk melawan infeksi, sel darah putih melepas enzim pembunuh kuman. Beberapa enzim mengandung zat besi yang memiliki warna kehijauan/kekuningan. Tubuh anda mungkin sedang melawan virus itu dan akan hilang dengan sndirinya.
Lalu mengapa dokter sering meresepkan antibiotik?
karena berbagai pertimbangan dan bisa jadi karena memang ada infeksi bakteri. Akan tetapi beberapa pasien juga sering meminta hal tersebut. "Terlalu banyak antibiotik dapat menyebabkan resistensi", ujar dr. Carroll.
Tanyakan dahulu ke dokter anda, apakah antibiotiuk memang diperlukan.


3. Dahulu begitu demam, langsung minum obat.

Demam tidak hanya membuat menggigil dan tidak nyaman. Pada anak, dampak demam bisa bahkan menjadi kejang yang membahayakan. Itu sebabnya dulu jika anak terkena demam, orang tua akan panik dan langsung memberikan obat penurun panas.


Spoiler for Yang Terbaru:




Minumlah obat hanya jika demam tinggi. demam ringan selain aman, justru merupakan mekanisme tubuh bertempur melawan infeksi. suhu tubuh yang naik akan mempercepat metabolisme. "suhu tubuh yang lebih tinggi merangsang sistem kekebalan tubuh". Kata David Katz, MD dari Yale-Griffin Prevention Research Center. Umumnya demam dibawah 38 derajat tidak perlu penurun panas. Namun konsultasikan ke dokter jika tetap merasa tidak nyaman


4. Dahulu batasi asupan telur untuk melindungi jantung

Sejak 1970-an, ahli jantung telah memperingatkan publik bahwa kuning telur mengandung kolesterol tinggi yang dapat menyumbat arteri dan memicu serangan jantung. Dalam jurnal Atherosclerosis dikatakan telur hampir sama berbahayanya dengan rokok untuk kesehatan jantung.


Spoiler for Yang Terbaru:




Tinjauan studi oleh American Journal of Clinical Nutrition menyimpulkan bahwa konsumsi telur pada orang sehat tidak meningkatkan risiko penyakit jantung. Bahkan anda dengan kolesterol tinggi tetap aman mengkonsumsi telur sebutir perhari. Alasannya adalah kolesterol yang terkandung dalam telur berefek sangat kecil bagi pembuluh darah. Hal ini karena kolesterol pada telur bukan lemak jenuh dan lemak trans yang memicu kolesterol. Kandungan kolesterol telur hanya 164mg. Jauh dibawah standar yang ditentukan American Heart Association, yaitu 300mg/hari untuk orang sehat, dan 200mg/hari untuk orang dengan penyakit jantung.
Kuning telur justru tinggi nutrisi seperti kolin sebagai pelindung otak dan lutein yang baik untuk kesehatan mata.

5. Dahulu oatmeal bagus untuk sarapan pagi

Oatmeal dikatakan rendah lemak, penuh serat, terbuat dari biji-bijian sehat. Kurang apalagi coba??


Spoiler for Yang Terbaru:




Pagi hari adalah saatnya pesta protein! Menurut studi International Journal of Obesity, orang yang memulai hari dengan sarapan yang mengandung protein, merasa kenyang dan makan 26% lebih sedikit saat siang hari. Protein merangsang usus melepaskan peptida, dan mengirim sinyal kenyang ke otak. Hal itu selain membuat anda sehat dan bertenaga untuk beraktifitas, juga dapat membantu anda untuk tidak "buas" pada siang harinya.

Itulah beberapa pengetahuan tambahan bagi agan-agan sekalian. Hal ini selain memacu para dokter (yang kaskuser) untuk dapat terus meng-update ilmunya, juga menjadi pengetahuan bagi agan-agan bila berobat nanti.

Sedikit tambahan dari saya untuk anda, mengenai pengetahuan unik dalam dunia kedokteran. Lest Cekidot!!

Dari Dokter Untuk Anda:

1. Hubungan Intim Lebih sering, 2-3x/minggu untuk memperpanjang usia hidup anda, mengurangi risiko penyakit jantung, dan meningkatkan kekebalan tubuh,,asalll....lakukan dengan istri anda tercinta

2. Tertawalah! Tertawa dapat membantu menambah usia arapan hidup anda. bersikaplah seperti anak-anak yang banyak tertawa agar terhindar dari stress dan dperesi, asal....jangan ketawa2 sambil nongkrong di pinggir jalan, ntar ketangkep satpol-pp baru tahu :P

3. Ikat rambut anda. hal ini meringankan alergi. Rmabut dapat memicu menempelnya serbuk sari penyebab alergi. Dan secara rutin, cuci rambut anda sebelum tidur, asal...hanya rambut di kepala ya? jangan rambut yang di....*NoComment

4. Konsumsi mentega. Mentega lebih sehat dibanding margarin. Mentega mengandung banyak vitamin dan anti oksidan. Makanlah satu sendok per-hari, asal.....dah ah. Gak ada Ide. Yang penting ini semua bukan asal-asalan lho gan,hehehe


SEKIAN DAN TERIMAKASIH

Sumber:
Klik Disini Gan !!












Senin, 09 Desember 2013

Makanan adalah kebutuhan pokok manusia yang dibutuhkan setiap saat dan memerlukan pengelolaan yang baik dan benar agar bermanfaat bagi tubuh. Menurut WHO, yang dimaksud makanan adalah : “Food include all substances, whether in a natural state or in a manufactured or preparedform, wich are part of human diet.” Batasan makanan tersebut tidak termasuk air, obat-obatan dan substansi-substansi yang diperlukan untuk tujuan pengobatan.

Makanan yang dikonsumsi hendaknya memenuhi kriteria bahwa makanan tersebut layak untuk dimakan dan tidak menimbulkan penyakit, diantaranya :

1. Berada dalam derajat kematangan yang dikehendaki

2. Bebas dari pencemaran di setiap tahap produksi dan penanganan selanjutnya.

3. Bebas dari perubahan fisik, kimia yang tidak dikehendaki, sebagai akibat dari pengaruh enzym, aktifitas mikroba, hewan pengerat, serangga, parasit dan kerusakan-kerusakan karena tekanan, pemasakan dan pengeringan.

4. Bebas dari mikroorganisme dan parasit yang menimbulkan penyakit yang dihantarkan oleh makanan (food borne illness).


Higiene dan Sanitasi
 
Pengertian higiene menurut Depkes adalah upaya kesehatan dengan cara memelihara dan melindungi kebersihan individu subyeknya. Misalnya mencuci tangan untuk melindungi kebersihan tangan, cuci piring untuk melindungi kebersihan piring, membuang bagian makanan yang rusak untuk melindungi keutuhan makanan secara keseluruhan.

Sanitasi makanan adalah salah satu usaha pencegahan yang menitik beratkan kegiatan dan tindakan yang perlu untuk membebaskan makanan dan minuman dari segala bahaya yang dapat menganggu atau memasak kesehatan, mulai dari sebelum makanan diproduksi, selama dalam proses pengolahan, penyimpanan, pengangkutan, sampai pada saat dimana makanan dan minuman tersebut siap untuk dikonsumsikan kepada masyarakat atau konsumen. Sanitasi makanan ini bertujuan untuk menjamin keamanan dan kemurnian makanan, mencegah konsumen dari penyakit, mencegah penjualan makanan yang akan merugikan pembeli. mengurangi kerusakan / pemborosan makanan. Dalam pengelolaan makanan ada 6 prinsip yang harus di perhatikan yaitu:

 

Keadaan bahan makanan

Semua jeis bahan makanan perlu mendapat perhatian secara fisik serta kesegarannya terjamin, terutama bahan-bahan makanan yang mudah membusuk atau rusak seperti daging, ikan, susu, telor, makanan dalam kaleng, buah, dsb. Baham makanan yang baik kadang kala tidak mudah kita temui, karena jaringan perjalanan makanan yang begirtu panjangdan melalui jarngan perdagangan yang begitu luas. Salah satu upaya mendapatkan bahan makanan yang baika dalah menghindari penggunaan bahan makanan yang berasal dari sumber tidak jelas (liar) karena kurang dapat dipertanggung jawabkan secara kualitasnya.

Cara penyimpanan bahan makanan

Tidak semua bahan makanan yang tersedia langsung dikonsumsi oleh masyarakat. Bahan makanan yang tidak segera diolah terutama untuk katering dan penyelenggaraan makanan RS perlu penyimpanan yang baik, mengingat sifat bahan makanan yang berbeda-beda dan dapat membusuk, sehingga kualitasnya dapat terjaga. Cara penyimpanan yang memenuhi syarat hgiene sanitasi makanan adalah sebagai berikut:

- Penyimpanan harus dilakukan ditempat khusus (gudang) yang bersih dan memenuhi syarat

- Barang-barang agar disusun dengan baik sehingga mudah diambil, tidak memberi kesempatan serangga atau tikus untuk bersarang, terhindar dari lalat/tikus dan untuk produk yang mudah busuk atau rusak agar disimpan pada suhu yang dingin.


Proses pengolahan

Pada proses / cara pengolahan makanan ada tiga hal yang perlu mendapat perhatian Yaitu:

1. Tempat pengolahan makanan

Tempat pengolahan makanan adalah suatu tempat dimana makanan diolah, tempat pengolahan ini sering disebut dapur. Dapur mempunyai peranan yang penting dalam proses pengolahan makanan, karena itu kebersihan dapur dan lingkungan sekitarnya harus selalu terjaga dan diperhatikan. Dapur yang baik harus memenuhi persyaratan sanitasi.

2. Tenaga pengolah makanan / Penjamah Makanan

Penjamah makanan menurut Depkes RI (2006) adalah orang yang secara langsung berhubungan dengan makanan dan peralatan mulai dari tahap persiapan, pembersihan, pengolahan pengangkutan sampai penyajian. Dalam proses pengolahan makanan, peran dari penjamah makanan sangatlah besar peranannya. Penjamah makanan ini mempunyai peluang untuk menularkan penyakit. Banyak infeksi yang ditularkan melalui penjamah makanan, antara lain Staphylococcus aureus ditularkan melalui hidung dan tenggorokan, kuman Clostridium perfringens, Streptococcus, Salmonella dapat ditularkan melalui kulit. Oleh sebab itu penjamah makanan harus selalu dalam keadan sehat dan terampil.

3. Cara pengolahan makanan

Cara pengolahan yang baik adalah tidak terjadinya kerusakan-kerusakan makanan sebagai akibat cara pengolahan yang salah dan mengikui kaidah atau prinsip-prinsip higiene dan sanitasi yang baik atau disebut GMP (good manufacturing practice).

Cara pengangkutan makanan yang telah masak

Pengangkutan makan dari tempat pengolahan ke tempat penyajian atau penyimpanan perlu mendapat perhatian agar tidak terjadi kontaminasi baik dari serangga, debu maupun bakteri. Wadah yang dipergunakan harus utuh, kuat dan tidak berkarat atau bocor. Pengangkutan untuk waktu yang lama harus diatur shunya dalam keadaan panas 60 C atau tetap dingi 4 C.


Cara penyimpanan makanan masak

Penyimpanan makanan masak dapat digolongkan menjadi dua, yaitu tempat penyimpanan makanan pada suhu biasa dan tempat penyimpanan pada suhu dingin. Makanan yang mudah membusuk sebaiknya disimpan pada suhu dingin yaitu < 40C. Untuk makanan yang disajikan lebih dari 6 jam, disimpan dalam suhu -5 s/d -10C.


Cara penyajian makanan masak

Saat penyajian makanan yang perlu diperhatikan adalah agar makanan tersebut terhindar dari pencemaran, peralatan yang digunakan dalam kondisi baik dan bersih, petugas yang menyajikan harus sopan serta senantiasa menjaga kesehatan dan kebersihan pakaiannya

Sumber : >> Klik Disini

Minggu, 08 Desember 2013

SIKAP REMAJA MENGHADAPI HIV/AIDS


Dewasa ini, orang ramai membicarakan HIV dan AIDS. Namun banyak di antara mereka yang belum mengetahui apakah sebenarnya HIV/AIDS itu sendiri. Sebagai remaja intelek, sudah seharusnya kita mengetahui apakah sebenarnya HIV/AIDS itu? Bagaimana cara mencegahnya serta bagaimana cara memperlakukan seorang penderita HIV/AIDS.


AIDS yang merupakan singkatan dari Accuirred Immune Deficiency Sindrome adalah suatu sindrom “serbuan” penyakit-penyakit terhadap tubuh akibat menurunnya sistem kekebalan. AIDS disebabkan oleh HIV (Human Immunodeficiency Virus).

HIV dapat menular dari satu manusia ke manusia lainnya melalui kontak cairan pada alat reproduksi, kontak darah (misalnya transfusi darah, kontak luka, dll.), penggunaan jarum suntik secara bergantian, dan kehamilan. Penularan melalui produk darah secara teori dapat saja terjadi, namun pada kenyataannya prosentasenya sangat kecil.
Setelah seseorang terinfeksi HIV, HIV akan bersembunyi di dalam sel darah putih, terutama sel-sel limfosit T4. Selama terinfeksi, sel limfosit T4 menjadi wahana perkembangbiakan HIV. Fase ini disebut Stadium Inkubasi. Pada fase ini orang tersebut tidak memperlihatkan gejala-gejala walaupun jumlah HIV semakin banyak dan semakin menggerogoti kekebalan tubuhnya. Fase ini berlangsung selama lebih kurang lima sampai sepuluh tahun. Jika dilakukan tes antibodi untuk mengetahui keberadaan HIV, hasilnya akan negatif tapi ia sudah dapat menularkan HIV kepada orang lain.

Fase berikutnya adalah Periode Jendela (Window Period). Pada fase ini jika dilakukan tes antibodi, hasilnya sudah menunjukkan positif. Hal ini berarti di dalam tubuh sudah terdapat zat anti yang dapat melawan HIV. Adanya zat anti ini bukan berarti tubuh dapat melawan infeksi HIV tetapi hal ini menunjukkan bahwa di dalam tubuh terdapat HIV. Fase ini berlangsung selama satu sampai enam bulan. Pada fase ini penderita akan mengalami sindrome retroviral akut berupa demam, pembesaran kelenjar, pembesaran hati atau ginjal, nyeri otot, nyeri tenggorokan, dan sebagainya seperti pada infeksi virus lain.
Selanjutnya penderita akan memasuki masa tanpa gejala (asimptomatik). Masa ini berarti di dalam tubuh terdapat HIV namun penderita tidak menunjukkan gejala apapun. Setelah masa ini penderita akan mengalami pembesaran kelenjar getah bening secara menetap dan merata (Persistent Generalized Lymphadenophaty). Pembengkakan ini tidak hanya terjadi di satu tempat melainkan di beberapa tempat dan berlangsung selama lebih dari satu bulan.
Setelah melewati fase-fase tersebut, penderita akan memasuki fase Full Blown. Pada fase ini virus akan menghancurkan sebagian besar atau keseluruhan sistem immune penderita dan penderita dapat dinyatakan positif mengidap AIDS. Gejala klinis pada orang dewasa ialah jika ditemukan dua dari tiga gejala utama dan satu dari lima gejala minor. Gejala utamanya antara lain demam berkepanjangan, penurunsan berat badan lebih dari 10 % dalam kurun waktu tiga bulan, dan diare kronis selama lebih dari satu bulan secara berulang-ulang maupun terus menerus. Gejala minornya yaitu batuk kronis selama lebih dari satu bulan, munculnya Herpes zoster secara berulang-ulang, infeksi pada mulut dan tenggorokan yang disebabkan oleh Candida albicans, bercak-bercak gatal di seluruh tubuh, serta serta pembengkakan kelenjar getah bening secara menetap di seluruh tubuh.

Akibat rusaknya sistem kekebalan, penderita menjadi mudah terserang penyakit-penyakit yang disebut penyakit oportunitis. Penyakit yang biasa menyerang orang normal seperti flu, diare, gatal-gatal, dll. Bisa menjadi penyakit yang mematikan di tubuh seorang penderita AIDS.
Untuk memastikan seseorang terinfeksi HIV atau tidak, orang tersebut harus melakukan tes darah dengan cara ELISA (Enzym Linked immuno Sorbant Assay) sebanyak dua kali. Bila hasilnya positif, dilakukan pemeriksaan lebih lanjut dengan cara Western Blot dan Immunofluoresensi.
Pada kenyataannya, tidaklah mudah mengajak seseorang untuk melakukan tes HIV. Untuk itulah dilakukan Voluntary Counseling and Testing (VCT).

VCT atau Voluntary Conseling and testing adalah kegiatan konseling atau pengarahan yang diberikan oleh seorang konselor kepada seseorang yang akan melakukan tes HIV dan meyakinkannya sebelum ia melakukan tes HIV,atau untuk mengetahui sejauh mana seseorang beresiko tertular HIV. Konseling ini juga dapat diberikan kepada orang yang ingin mengtahui informasi mengenai HIV dan AIDS secara lebih mendalam. Selain itu, konseling ini bertujuan menyiapakan mental orang yang akan melkukan tes HIV apabila hasil tesnya positif. Konseling ini bersifat rahasia dan dilakukan di sebuah ruangan terututp yang di dalamnya hanya terdapat konselor dan kliennya.

VCT tidak hanya dilakukan sebelum tes HIV. Konseling ini juga harus dilakukan setelah tes. Jika hasil tes seseorang positif, konseling ini akan memberikan dukungan moril kepada orang tersebut. Melalui konseling ini, orang tersebut akan mengetahui cara-cara menghindari penularan HIV kepada orang lain. Mereka juga akan dibantu untuk dapat menghadapi dan menjalani kehidupannya secara positif.
Jika hasil tes yang didapatkan negatif, VCT harus tetap dilakukan. Konseling ini akan memberikan pengetahuan tentang bagaimana menghindari penularan HIV, bagaimana memperlakukan seorang penderita HIV, dan bagaimana menanggulangi HIV di masa mendatang.

Dari survey yang dilakukan, jarang sekali ada orang yang mengakui dirinya terinfeksi HIV. Hal ini membuat HIV/AIDS menjadi fenomena gunung es. Sangat memprihatinkan mengetahui bahwa kasus yang muncul di permukaan ternyata hanya sebagian kecil dari keseluruhan kasus yang sebenarnya terjadi. Kendala ini ditambah lagi dengan terbatasnya tenaga konselor, kurangnya pemahaman masyarakat tentang HIV, serta kurangnya lembaga-lembaga penyelenggara VCT dan LSM-LSM peduli HIV/AIDS di lingkungan masyarakat membuat penanganan HIV/AIDS di Indonesia semakin tersendat. Sebagai anak bangsa, apakah yang dapat kita lakukan.

Pemberian VCT hanya boleh dilakukan oleh tenaga yang terdidik dan terlatih tapi bukan berarti remaja tidak dapat turut aktif dalam penanggulangan HIV/AIDS. Sebagai remaja, kita dapat melakukan VCT-VCT lainnya. Misalnya Visual Care Technique atau teknik menjaga pandangan agar terhindar dari perilaku-perilaku seks menyimpang yang dapat membuka peluang masuknya HIV ke dalam tubuh kita. Teknik ini antara lain tidak berpacaran secara berlebihan dan tidak mendekati hal-hal yang berbau pornografi dan pornoaksi.
Selain itu ada Vertical Chain Technique yaitu teknik penghindaran HIV/AIDS dengan cara meningkatkan hubungan vertikal. Maksud hubungan vertikal disini adalah hubungan antara manusia dengan Tuhannya. Teknik ini dapat ditempuh dengan cara meningkatkan keimanan kepada Tuhan, meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah, dan selalu mengingat Tuhan di setiap langkah hidup kita.

Tidak hanya itu, kita juga dapat menggunakan prinsip Valiant, Cautious and Thinking. Valiant atau berani maksudnya kita harus berani mengatakan “tidak” untuk narkoba karena narkoba membuka peluang besar penularan HIV (terutama penggunaan narkoba suntik). Cautious atau berhati-hati maksudnya kita harus berhati-hati dalam bergaul. Jangan sampai mengikuti pergaulan yang menjerumuskan kita kepada narkoba dan seks bebas. Thinking atau berpikir artinya kita harus selalu berpikir jernih sebelum memutuskan untuk melakukan sesuatu. Apalagi jika hal tersebut berkaitan dengan masa depan kita.

Mengapa diperlukan tindakan-tindakan pencegahan seperti itu? Karena sesungguhnya mencegah penularan HIV/AIDS lebih mudah daripada menanggulangi akibat-akibat buruk yang ditimbulkannya, seperti infeksi oportunitis yang telah disebutkan di atas.
Bagaimana jika kita mengetahui ada seseorang di lingkungan kita yang menderita HIV/AIDS? Dalam memperlakukan penderita HIV/AIDS, kita dapat menggunakan VCT (Vast, Chum, and Totalcare). Vast artinya luas. Maksudnya kita harus meluaskan pikiran kita dan pikiran masyarakat tentang apa itu HIV/AIDS serta bagaimana memperlakukan ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS). Chum (teman baik), kita harus bisa menjadi teman baik bagi ODHA dengan cara Totalcare. Artinya kita harus tetap memperlakukannya dengan wajar, sama seperti kita memperlakukan orang lain, kita harus menyayanginya, mendengar semua keluh kesahnya, membantu agar ia dapat menjalani hidupnya secara positif, dan sebisa mungkin mengajaknya untuk melakukan pengobatan. Melalui cara-cara inilah remaja dapat berperan aktif membantu pemerintah dalam memberantas HIV/AIDS, bukan orangnya.

Sumber : Klik Disini !!


Ilmu Public Health Menurut Winslow adalah ilmu atau seni yang bertujuan untuk mencegah penyakit, memperpanjang umur, dan meningkatkan efisiensi hidup masyarakat melalui upaya kelompok-kelompok masyarakat yang terkoordinasi, perbaikan kesehatan lingkungan, mencegah dan memberantas penyakit menular, dan melakukan pendidikan kesehatan untuk masyarakat/perorangan.

Pengertian Sehat :

1. Sehat adalah suatu keadaan seimbang yang dinamis antara bentuk dan fungsi tubuh dengan berbagai faktor yang berusaha mempengaruhinya (Perkin 1938)
2. Sehat adalah suatu keadaan dan kualitas dari organ tubuh yang berfungsi secara wajar dengan segala faktor keturunan dan lingkungan yang dipunyainya (WHO 1957)
3. Sehat adalah keadaan dimana seseorang pada waktu diperiksa oleh ahlinya tidak mempunyai keluhan ataupun tidak terdapat tanda-tanda penyakit atau kelainan (White 1977)
4. Sehat adalah suatu keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis (UU Kesehatan No. 23 tahun 1992)


Menurut H.L Blum, ada 4 faktor yang bersama-sama mempengaruhi tingkat kesehatan masyarakat, yaitu:
1. Kesehatan Lingkungan
2. Perilaku
3. Pelayanan Kesehatan
4. Genetik


Perbedaan Pelayanan Kedokteran Dengan Pelayanan Kesehatan Masyarakat :

 PELAYANAN KEDOKTERAN
1. Tenaga pelaksananya terutama adalah para dokter
2. Perhatian utamanya pada penyembuhan penyakit
3. Sasaran utamanya adalah perseorangan atau keluarga
4. Kurang memperhatikan efisiensi
5. Tidak boleh menarik perhatian karena bertentangan dengan etika kedokteran
6. Menjalankan fungsi perseorangan dan terikat dengan undang-undang
7. Penghasilan diperoleh dari imbal jasa
8. Bertanggung jawab hanya kepada penderita
9. Tidak dapat memonopoli upaya kesehatan dan bahkan mendapat saingan
10. Masalah administrasi amat sederhana


PELAYANAN KESEHATAN MASYARAKAT
1. Tenaga pelaksananya terutama ahli kesehatan masyarakat
2. Perhatian utamanya pada pencegahan penyakit
3. Sasaran utamanya adalah masyarakat secara keseluruhan
4. Selalu berupaya mencari cara yang efisien
5. Dapat manarik perhatian masyarakat misalnya dengan penyuluhan kesehatan
6. Tenaga pelaksananya terutama ahli kesehatan masyarakat
7. Penghasilan berupa gaji dari pemerintah
8. Bertanggung jawab kepada seluruh masyarakat
9. Dapat memonopoli upaya kesehatan
10. Menghadapi berbagai persoalan kepemimpinan

Disinfeksi atau menghilangkan kuman dari air minum sangat penting dilakukan sebelum air tersebut diminum atau dikonsumsi oleh kita. Air yang kita peroleh dari sumur, hasil penyaringan sederhana, ataupun sumber yang lain mungkin akan terlihat bening, tidak berasa dan tidak berbau, tetapi hal itu tidak menandakan bahwa air tersebut bersih dari kuman penyakit.
Ada berbagai cara untuk melakukan disinfeksi atau menghilangkan kuman penyakit dari air yang akan kita konsumsi. Selengkapnya sebagai berikut :
1. Memanaskan atau memasak air
Pasteurisasi pada air yang akan dikonsumsi dapat dilakukan dengan jalan memanaskan air pada temperatur 55ºC – 60ºC selama sepuluh menit. Hal tersebut akan mematikan sebagian besar patogen yang ada dalam air. Walaupun demikian cara ini tidak efektif,sebab kita hampir tidak mungkin setiap saat dapat memantau air yang kita panaskan apa sudah berada dalam temperatur pasteurisasi tersebut atau belum.
Cara lain yang lebih efektif dan telah sering kita lakukan adalah memasak atau merebus air yang akan kita konsumsi hingga mendidih. Cara ini sangat efektif untuk mematikan semua patogen yang ada dalam air seperti virus, bakteri, spora, fungi dan protozoa. Lama waktu air mendidih yang dibutuhkan adalah berkisar 5 menit, namun lebih lama lagi waktunya akan lebih baik, direkomendasikan selama 20 menit.
Walaupun mudah dan sering kita gunakan, kendala utama dalam memasak air hingga mendidih ini adalah bahan bakar, baik itu kayu bakar, briket batubara, minyak tanah, gas elpiji ataupun bahan bakar lainnya.

2. Radiasi dan Pemanasan Dengan Menggunakan Sinar Matahari
Proses radiasi ultra violetdan pemanasan air dengan menggunakan sinar matahari ini dapat dilakukan dengan bantuan wadah logam ataupun botol transparan. Botol transparan yang digunakan umumnya adalah botol plastik. Botol kaca dapat digunakan tetapi memiliki kelemahan mudah pecah, lebih berat dan membutuhkan waktu yang lebih lama untuk pemanasan. Oleh karena itu gunakanllah botol kaca yang dapat ditembus oleh sinar ultra violet.
Untuk mengantisipasi bahaya dari pemakaian plastik, sebaiknya gunakan botol plastik dengan nomor logo daur ulang 1 atau PETE/PET (polyethylene terephthalate), atau lebih baik lagi bila anda memiliki botol bernomor 5 atau PP (polypropylene). Keterangan lebih lanjut mengenai jenis plastik tersebut dapat anda lihat padanomor jenis plastik daur ulang.
Untuk mempercepat proses radiasi dan pemanasan botol transparan tersebut dicat hitam pada salah satu sisinya (50% dari permukaan botol) atau diletakkan pada permukaan media yang berwarna gelap yang dapat mengumpulkan dan menimbulkan radiasi panas. Pada kondisi demikian, setelah diletakkan selama beberapa jam (5-6 jam untuk keadaan cerah) air di dalam botol tersebut akan dapat mencapai 55ºC (mencapai suhu pasteurisasi) sehingga patogen yang ada dalam air dapat dieliminir.
Untuk hasil yang lebih baik lagi, sebelum dijemur lakukan proses aerasi dengan mengocok botol terlebih dahulu setelah itu botol diletakkan pada permukaan metal seperti atap seng.


3. Air Perasan Jeruk Nipis
Cara ini efektif untuk mengatasi virus kolera. Dengan menambahkan air jeruk nipis hingga mencapai 1-5% dari air yang hendak dikonsumsi dapat menurunkan pH air di bawah 4,5. Pada tahap ini virus kolera dapat dikurangi hingga hampir 100%. Selain itu dari hasil penelitian, pertumbuhan virus kolera pada nasi dapat ditahan dengan menggunakan air jeruk nipis pada saat dimasak.
Kelemahan dari cara ini adalah bila campuran air perasan jeruk nipis terlalu banyak akan dapat merubah rasa air.

Sumber : >> Click Here <<

Sabtu, 07 Desember 2013

Rumah sakit dan puskesmas sebagai unit tempat pelayanan kesehatan, bertanggung jawab dalam memberikan pelayanan yang bermutu sesuai dengan standar untuk memenuhi kebutuhan dan tuntutan masyarakat. Demikian juga dengan upaya pemberian pelayanan keperawatan dirumah sakit yang merupakan bagian integral dari upaya pelayanan kesehatan, dan secara langsung akan memberi konstribusi dalam peningkatan kualitas hospital care.
Untuk memberikan pelayanan kesehatan yang optimal, banyak syarat yang harus dipenuhi, syarat yang dimaksud mencakup delapan hal pokok yakni: tersedia (available), wajar (appropriate), berkesinambungan (continue), dapat diterima (acceptable), dapat dicapai (accesible), dapat dijangkau (affordable), efisien (efficient) serta bermutu (quality).
Kedelapan syarat pelayanan kesehatan ini sama pentingnya, namun pada akhir-akhir ini dengan semakin majunya ilmu dan teknologi kesehatan serta semakin baiknya tingkat pendidikan serta keadaan sosial ekonomi masyarakat, tampak syarat mutu makin bertambah penting. Mudah dipahami karena apabila pelayanan kesehatan yang bermutu dapat diselenggarakan, bukan saja akan dapat memperkecil timbulnya berbagai risiko karena penggunaan berbagai kemajuan ilmu dan teknologi tetapi sekaligus juga akan dapat memenuhi kebutuhan dan tuntutan masyarakat yang semakin hari tampak semakin meningkat.
Untuk dapat menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang bermutu banyak upaya yang dapat dilakukan, jika upaya tersebut dilaksanakan secara terarah dan terencana dikenal dengan nama program menjaga mutu (Quality Assurance Program).

MUTU
Mutu adalah gambaran total sifat dari suatu produk atau jasa pelayanan yang berhubungan dengan kemampuan untuk memberikan kebutuhan kepuasan pelanggan (ASQC dalam Wijoyo, 1999).
Mutu adalah totalitas dari wujud serta ciri dari suatu barang atau jasa yang dihasilkan, didalamnya terkandung sekaligus pengertian akan adanya rasa aman dan terpenuhinya kebutuhan para pengguna barang atau jasa yang dihasilkan tersebut (Din ISO 8402, 1986).
Mutu adalah kepatuhan terhadap standar yang telah ditetapkan (Crosby, 1984).
Dari beberapa pengertian diatas, segeralah mudah dipahami bahwa mutu pelayanan hanya dapat diketahui apabila sebelumnya telah terlebih dahulu dilakukan penilaian, baik terhadap tingkat kesempurnaan, sifat, totalitas dari wujud serta ciri dan kepatuhan para penyelenggara pelayanan terhadap standar yang telah ditetapkan. Dalam kenyataan sehari-hari melakukan penilaian ini tidaklah mudah, penyebab utamanya ialah karena mutu pelayanan tersebut bersifat multi-dimensional. Tiap orang, tergantung dari latar belakang dan kepentingan masing-masing dapat saja melakukan penilaian dari dimensi yang berbeda. Misalnya penilaian dari pemakai jasa pelayanan kesehatan, dimensi mutu yang dianut ternyata sangat berbeda dengan penyelenggara pelayanan kesehatan ataupun dengan penyandang dana pelayanan kesehatan. Menurut Roberts dan Prevost (1987) perbedaan dimensi tersebut adalah:
1. Bagi pemakai jasa pelayanan kesehatan.
Mutu pelayanan kesehatan lebih terkait pada dimensi ketanggapan petugas dalam memenuhi kebutuhan pasien, kelancaran komunikasi antara petugas dengan pasien, keprihatinan serta keramah-tamahan petugas dalam melayani pasien, atau kesembuhan penyakit yang sedang diderita oleh pasien.
2. Bagi penyelenggara pelayanan kesehatan.
Mutu pelayanan kesehatan lebih terkait pada dimensi kesesuaian pelayanan yang diselenggarakan dengan ilmu dan teknologi kesehatan, standar dan etika profesi, dan adanya otonomi profesi pada waktu menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan pasien.
3. Bagi penyandang dana pelayanan kesehatan.
Mutu pelayanan kesehatan lebih terkait pada dimensi efesiensi pemakaian sumber dana, kewajaran pembiayaan, atau kemampuan dari pelayanan kesehatan mengurangi kerugian dari penyandang dana.

PROGRAM MENJAGA MUTU.

1. Pengertian.
Pengertian program menjaga mutu banyak macamnya, beberapa diantaranya yang dipandang cukup penting adalah:
a. Program menjaga mutu adalah suatu upaya yang berkesinambungan, sistematis dan objektif dalam memantau dan menilai pelayanan yang diselenggarakan dibandingkan dengan standar yang telah ditetapkan, serta menyelesaikan masalah yang ditemukan untuk memperbaiki mutu pelayanan (Maltos & Keller, 1989).
b. Program menjaga mutu adalah suatu proses untuk memperkecil kesenjangan antara penampilan yang ditemukan dengan keluaran yang diinginkan dari suatu sistem, sesuai dengan batas-batas teknologi yang dimiliki oleh sistem tersebut (Ruels & Frank, 1988).
c. Program menjaga mutu adalah suatu upaya terpadu yang mencakup identifikasi dan penyelesaian masalah pelayanan yang diselenggarakan, serta mencari dan memanfaatkan berbagai peluang yang ada untuk lebih meningkatkan mutu pelayanan (The American Hospital Association, 1988).
d. Program menjaga mutu adalah suatu program berlanjut yang disusun secara objektif dan sistematis dalam memantau dan menilai mutu dan kewajaran pelayanan, menggunakan berbagai peluang yang tersedia untuk meningkatkan pelayanan yang diselenggarakan serta menyelesaikan berbagai masalah yang ditemukan (Joint Commission on Acreditation of Hospitals, 1988).
Keempat pengertian program menjaga mutu ini meskipun rumusannya tidak sama namun pengertian pokok yang terkandung didalamnya tidaklah berbeda. Pengertian pokok yang dimaksud paling tidak mencakup tiga rumusan utama, yakni rumusan kegiatan yang akan dilakukan, karakteristik kegiatan yang akan dilakukan, serta tujuan yang ingin dicapai dari pelaksanaan kegiatan tersebut.
Jika ketiga rumusan tersebut disarikan dari keempat pengertian program menjaga mutu diatas, dapatlah dirumuskan pengertian program menjaga mutu yang lebih terpadu. Program menjaga mutu adalah suatu upaya yang dilaksanakan secara berkesinambungan, sistematis, objektif dan terpadu dalam menetapkan masalah dan penyebab masalah mutu pelayanan berdasarkan standar yang telah ditetapkan, menetapkan dan melaksanakan cara penyelesaian masalah sesuai dengan kemampuan yang tersedia, serta menilai hasil yang dicapai dan menyusun saran tindak lanjut untuk lebih meningkatkan mutu pelayanan.
2. Tujuan.
Tujuan program menjaga mutu mencakup dua hal yang bersifat pokok, yang jika disederhanakan dapat diuraikan sebagai berikut:
a. Tujuan antara.
Tujuan antara yang ingin dicapai oleh program menjaga mutu ialah diketahuinya mutu pelayanan. Jika dikaitkan dengan kegiatan program menjaga mutu, tujuan ini dapat dicapai apabila masalah serta prioritas masalah mutu berhasil ditetapkan.
b. Tujuan akhir.
Tujuan akhir yang ingin dicapai oleh program menjaga mutu ialah makin meningkatnya mutu pelayanan. Jika dikaitkan dengan kegiatan program menjaga mutu, tujuan ini dapat dicapai apabila masalah dan penyebab masalah mutu berhasil diatasi.
3. Manfaat.
Apabila program menjaga mutu dapat dilaksanakan, banyak manfaat yang akan diperoleh. Secara umum beberapa manfaat yang dimaksudkan adalah:
a. Dapat lebih meningkatkan efektifitas pelayanan kesehatan.
Peningkatan efektifitas yang dimaksud di sini erat hubungannya dengan dapat diselesaikannya masalah yang tepat dengan cara penyelesaian masalah yang benar. Karena dengan diselenggarakannya program menjaga mutu dapat diharapkan pemilihan masalah telah dilakukan secara tepat serta pemilihan dan pelaksanaan cara penyelesaian masalah telah dilakukan secara benar.
b. Dapat lebih meningkatkan efesiensi pelayanan kesehatan.
Peningkatan efesiensi yang dimaksudkan disini erat hubungannya dengan dapat dicegahnya penyelenggaraan pelayanan yang berlebihan atau yang dibawah standar. Biaya tambahan karena pelayanan yang berlebihan atau karena harus mengatasi berbagai efek samping karena pelayanan yang dibawah standar akan dapat dicegah.
c. Dapat lebih meningkatkan penerimaan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan.
Peningkatan penerimaan ini erat hubungannya dengan telah sesuainya pelayanan kesehatan yang diselenggarakan dengan kebutuhan dan tuntutan masyarakat sebagai pemakai jasa pelayanan. Apabila peningkatan penerimaan ini dapat diwujudkan, pada gilirannya pasti akan berperan besar dalam turut meningkatkan derajat kesehatan masyarakat secara keseluruhan.
d. Dapat melindungi pelaksana pelayanan kesehatan dari kemungkinan munculnya gugatan hukum.
Pada saat ini sebagai akibat makin baiknya tingkat pendidikan dan keadaan sosial ekonomi masyarakat serta diberlakukannya berbagai kebijakan perlindungan publik, tampak kesadaran hukum masyarakat makin meningkat pula. Untuk melindungi kemungkinan munculnya gugatan hukum dari masyarakat yang tidak puas terhadap pelayanan kesehatan, tidak ada pilihan lain yang dapat dilakukan kecuali berupaya menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang terjamin mutunya. Dalam kaitan itu peranan program menjaga mutu jelas amat penting, karena apabila program menjaga mutu dapat dilaksanakan dapatlah diharapkan terselenggaranya pelayanan kesehatan yang bermutu, yang akan berdampak pada peningkatan kepuasan para pemakai jasa pelayanan kesehatan .
4. Syarat.
Syarat program menjaga mutu banyak macamnya, beberapa dari persyaratan yang dimaksud dan dipandang penting ialah:
a. Bersifat khas.
Syarat pertama yang harus dipenuhi adalah harus bersifat khas, dalam arti jelas sasaran, tujuan dan tata cara pelaksanaannya serta diarahkan hanya untuk hal-hal yang bersifat pokok saja. Dengan adanya syarat seperti ini, maka jelaslah untuk dapat melakukan program menjaga mutu yang baik perlu disusun dahulu rencana kerja program menjaga mutu.
b. Mampu melaporkan setiap penyimpangan.
Syarat kedua yang harus dipenuhi ialah kemampuan untuk melaporkan setiap penyimpangan secara tepat, cepat dan benar. Untuk ini disebut bahwa suatu program menjaga mutu yang baik seyogianya mempunyai mekanisme umpan balik yang baik.
c. Fleksibel dan berorientasi pada masa depan.
Syarat ketiga yang harus dipenuhi ialah sifatnya yang fleksibel dan berorientasi pada masa depan. Program menjaga mutu yang terlau kaku dalam arti tidak tanggap terhadap setiap perubahan, bukanlah program menjaga mutu yang baik.
d. Mencerminkan dan sesuai dengan keadaan organisasi.
Syarat keempat yang harus dipenuhi ialah harus mencerminkan dan sesuai dengan keadaan organisasi. Program menjaga mutu yang berlebihan, terlalu dipaksakan sehingga tidak sesuai dengan kemampuan yang dimiliki, tidak akan ekonomis dan karena itu bukanlah suatu program yang baik.
e. Mudah dilaksanakan.
Syarat kelima adalah tentang kemudahan pelaksanaannya, inilah sebabnya sering dikembangkan program menjaga mutu mandiri (Self assesment). Ada baiknya program tersebut dilakukan secara langsung, dalam arti dilaksanakan oleh pihak-pihak yang melaksanakan pelayanan kesehatan .
f. Mudah dimengerti.
Syarat keenam yang harus dipenuhi ialah tentang kemudahan pengertiannya. Program menjaga mutu yang berbelit-belit atau yang hasilnya sulit dimengerti, bukanlah suatu program yang baik.

PELAYANAN KESEHATAN YANG BERMUTU.

Pelayanan kesehatan yang bermutu adalah pelayanan kesehatan yang dapat memuaskan setiap pemakai jasa pelayanan kesehatan sesuai dengan tingkat kepuasan rata-rata penduduk, serta penyelenggaraannya sesuai dengan standar dan kode etik profesi yang telah ditetapkan.
Menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang sesuai dengan standar dan kode etik profesi meskipun diakui tidak mudah namun masih dapat diupayakan, karena untuk ini memang telah ada tolok ukurnya, yakni rumusan-rumusan standar serta kode etik profesi yang pada umunya telah dimiliki dan wajib sifatnya untuk dipakai sebagai pedoman dalam menyelenggarakan setiap kegiatan profesi.
Tetapi akan bagaimakah halnya untuk penyelenggaraan pelayanan kesehatan yang dapat memuaskan setiap pemakai jasa pelayanan kesehatan ?. Sekalipun aspek kepuasan tersebut telah dibatasi hanya yang sesuai dengan tingkat kepuasan rata-rata penduduk yang menjadi sasaran utama pelayanan kesehatan , namun karena ruang lingkup kepuasan memang bersifat sangat luas, menyebabkan upaya untuk menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang bermutu tidaklah semudah yang diperkirakan. Sesungguhnyalah seperti juga mutu pelayanan, dimensi kepuasan pasien sangat bervariasi sekali. Secara umum dimensi kepuasan tersebut dapat dibedakan atas dua macam:
1. Kepuasan yang mengacu pada penerapan standar dan kode etik profesi.
Dalam hal ini ukuran kepuasan pemakai jasa pelayanan kesehatan terbatas hanya pada kesesuaian dengan standar dan kode etik profesi saja. Suatu pelayanan kesehatan disebut sebagai pelayanan kesehatan yang bermutu apabila penerapan standar dan kode etik profesi dapat memuaskan pasien. Dengan pendapat ini maka ukuran-ukuran pelayanan kesehatan yang bermutu hanya mengacu pada penerapan standar serta kode etik profesi yang baik saja. Ukuran-ukuran yang dimaksud pada dasarnya mencakup penilaian terhadap kepuasan pasien mengenai:
a. Hubungan tenaga kesehatan/perawat-pasien (Nurse-patient relationship).
b. Kenyamanan pelayanan (Amenitis).
c. Kebebasan melakukan pilihan (Choice).
d. Pengetahuan dan kompetensi teknis (Scientifik knowledge and technical skill).
e. Efektifitas pelayanan (Effectives).
f. Keamanan tindakan (Safety).
2. Kepuasan yang mengacu pada penerapan semua persyaratan pelayanan kesehatan.
Dalam hal ini ukuran kepuasan pemakai jasa pelayanan kesehatan dikaitkan dengan penerapan semua persyaratan pelayanan kesehatan . Suatu pelayanan kesehatan disebut sebagai pelayanan kesehatan yang bermutu apabila penerapan semua persyaratan pelayanan dapat memuaskan pasien. Dengan pendapat ini mudahlah dipahami bahwa ukuran-ukuran pelayanan kesehatan yang bermutu lebih bersifat luas, karena didalamnya tercakup penilaian kepuasan pasien mengenai:
a. Ketersediaan pelayanan kesehatan (Available).
b. Kewajaran pelayanan kesehatan (Appropriate).
c. Kesinambungan pelayanan kesehatan (Continue).
d. Penerimaan pelayanan kesehatan (Acceptable).
e. Ketercapaian pelayanan kesehatan (Accesible).
f. Keterjangkauan pelayanan kesehatan (Affordable).
g. Efesiensi pelayanan kesehatan (Efficient).
h. Mutu pelayanan kesehatan (Quality).

UNSUR-UNSUR YANG MEMPENGARUHI MUTU PELAYANAN

Mutu pelayanan kesehatan sebenarnya menunjuk pada penampilan (performance) dari pelayanan kesehatan yang dikenal dengan keluaran (output) yaitu hasil akhir kegiatan dari tindakan dokter dan tenaga profesi lainnya terhadap pasien, dalam arti perubahan derajat kesehatan dan kepuasan baik positif maupun sebaliknya.
Sedangkan baik atau tidaknya keluaran tersebut sangat dipengaruhi oleh proses (process), masukan (input) dan lingkungan (environment). Maka jelaslah bahwa baik atau tidaknya mutu pelayanan kesehatan sangat dipengaruhi oleh unsur-unsur tersebut, dan untuk menjamin baiknya mutu pelayanan kesehatan ketiga unsur harus diupayakan sedemikian rupa agar sesuai dengan standar dan atau kebutuhan.
Unsur masukan
Unsur masukan (input) adalah tenaga, dana dan sarana fisik, perlengkapan serta peralatan. Secara umum disebutkan bahwa apabila tenaga dan sarana (kuantitas dan kualitas) tidak sesuai dengan standar yang telah ditetapkan (standardofpersonnel and facilities), serta jika dana yang tersedia tidak sesuai dengan kebutuhan, maka sulitlah diharapkan baiknya mutu pelayanan (Bruce 1990).
Unsur lingkungan
Yang dimaksud dengan unsur lingkungan adalah kebijakan,organisasi, manajemen. Secara umum disebutkan apabila kebijakan,organisasi dan manajemen tersebut tidak sesuai dengan standar dan atau tidak bersifat mendukung, maka sulitlah diharapkan baiknya mutu pelayanan.
Unsur proses
Yang dimaksud dengan unsur proses adalah tindakan medis,keperawatan atau non medis. Secara umum disebutkan apabila tindakan tersebut tidak sesuai dengan standar yang telah ditetapkan (standard of conduct), maka sulitlah diharapkan mutu pelayanan menjadi baik (Pena, 1984).
STANDAR
Program menjaga mutu tidak dapat dipisahkan dengan keberadaan standar, karena kegiatan pokok program tersebut adalah menetapkan masalah, menetapkan penyebab masalah,menetapkan masalah, menetapkan cara penyelesaian masalah,menilai hasil dan saran perbaikan yang harus selalu mengacu kepada standar yang telah ditetapkan sebelumnya sebagai alat menuju terjaminnya mutu.
Pengertian standar itu sendiri sangat beragam, di antaranya:
• Standar adalah sesuatu ukuran atau patokan untuk mengukur kuantitas, berat, nilai atau mutu.
• Standar adalah rumusan tentang penampilan atau nilai diinginkan yang mampu dicapai, berkaitan dengan parameter yang telah ditetapkan.
• Standar adalah keadaan ideal atau tingkat pencapaian tertinggi dan sempurna yang dipergunakan sebagai batas penerimaan minimal, atau disebut pula sebagai kisaran variasi yang masih dapat diterima (Clinical Practice Guideline, 1990).
Berdasarkan batasan tersebut di atas sekalipun rumusannya berbeda, namun terkandung pengertian yang sama, yaitu menunjuk pada tingkat ideal yang diinginkan. Lazimnya tingkat ideal tersebut tidak disusun terlalu kaku, namun dalam bentuk minimal dan maksimal (range). Penyimpangan yang terjadi tetapi masih dalam batas-batas yang dibenarkan disebut toleransi (tolerance). Sedangkan untuk memandu para pelaksana program menjaga mutu agar tetap berpedoman pada standar yang telah ditetapkan maka disusunlah protokol.
Adapun yang dimaksud dengan protokol (pedoman, petunjuk pelaksanaan) adalah suatu pernyataan tertulis yang disusun secara sistimatis dan yang dipakai sebagai pedoman oleh para pelaksana dalam mengambil keputusan dan atau dalam melaksanakan pelayanan kesehatan.Makin dipatuhi protokol tersebut, makin tercapai standar yang telah ditetapkan.Jenis standar sesuai dengan unsur-unsur yang terdapat dalam unsur-unsur rogram menjaga mutu, dan peranan yang dimiliki tersebut. Secara umum standar program menjaga mutu dapat dibedakan :
1) Standar persyaratan minimal
Adalah yang rnenunjuk pada keadaan minimal yang harus dipenuhi untuk menjamin terselenggaranya pelayanan kesehatan yang bermutu, yang dibedakan dalam :
a) Standar masukan
Dalam standar masukan yang diperlukan untuk minimal terselenggaranya pelayanan kesehatan yang bermutu, yaitu jenis, jumlah, dan kualifikasi/spesifikasi tenaga pelaksana sarana,peralatan, dana (modal).
b) Standar lingkungan
Dalam standar lingkungan ditetapkan persyaratan minimal unsur lingkungan yang diperlukan untuk dapat menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang bermutu yakni garis-garis besar kebijakan program, pola organisasi serta sistim manajemen,yang harus dipatuhi oleh semua pelaksana.
c) Standar proses
Dalam standar proses ditetapkan persyaratan minimal unsur proses yang harus dilakukan untuk terselenggaranya pelayanan kesehatan yang bermutu, yakni tindakan medis, keperawatan dan non medis (standard of conduct), karena baik dan tidaknya mutu pelayanan sangat ditentukan oleh kesesuaian tindakan dengan standar proses.
2) Standar penampilan minimal
Yang dimaksud dengan standar penampilan minimal adalah yang menunjuk pada penampilan pelayanan kesehatan yang masih dapat diterima. Standar ini karena menunjuk pada unsur keluaran maka sering disebut dengan standar keluaran atau standar penampilan (Standard of Performance).
Untuk mengetahui apakah mutu pelayanan yang diselenggarakan masih dalam batas-batas kewajaran, maka perlu ditetapkan standar keluaran.Untuk dapat meningkatkan mutu pelayanan kesehatan maka keempat standar tersebut perlu dipantau, dan dinilai secara obyektif serta berkesinambungan. Bila ditemukan penyimpangan,perlu segera diperbaiki. Dalam pelaksanaannya pemantauan standar-standar tersebut tergantung kemampuan yang dimiliki,
maka perlu disusun prioritas.
INDIKATOR
Untuk mengukur tercapai tidaknya standar yang telah ditetapkan,maka digunakan indikator (tolok ukur), yaitu yang menunjuk pada ukuran kepatuhan terhadap standar yang ditetapkan.Makin sesuai sesuatu yang diukur dengan indikator,makin sesuai pula keadaannya dengan standar yang telah ditetapkan.Sesuai dengan jenis standar dalam program menjaga mutu, maka indikatorpun dibedakan menjadi :
1) Indikator persyaratan minimal
Yaitu indikator persyaratan minimal yang menunjuk pada ukuran terpenuhi atau tidaknya standar masukan, lingkungan dan proses. Apabila hasil pengukuran berada di bawah indikator yang telah ditetapkan pasti akan besar pengaruhnya terhadap mutu pelayanan kesehatan yang diselenggarakan.
2) Indikator penampilan minimal
Yaitu indikator penampilan minimal yang menunjuk pada ukuran terpenuhi atau tidaknya standar penampilan minimal yang diselenggarakan. Indikator penampilan minimal ini sering disebut indikator keluaran. Apabila hasil pengukuran terhadap standar penampilan berada di bawah indikator keluaran maka berarti pelayanan kesehatan yang diselenggarakan tidak bermutu.
Berdasarkan uraian di atas mudah dipahami, apabila ingin diketahui (diukur) adalah faktor-faktor yang mempengaruhi mutu pelayanan kesehatan (penyebab), maka yang dipergunakan adalah indikator persyaratan minimal. Tetapi apabila yang ingin diketahui adalah mutu pelayanan kesehatan (akibat) maka yang dipergunakan adalah indikator keluaran (penampilan).

KRITERIA
Indikator dispesifikasikan dalam berbagai kriteria dari standar yang telah ditetapkan, baik unsur masukan, lingkungan, proses ataupun keluaran. Berdasarkan uraian di atas mutu pelayanan kesehatan suatu fasilitas pemberi jasa dapat diukur dengan memantau dan menilai indikator, kriteria dan standar yang terbukti sahih dan relevan dengan : masukan, lingkungan, proses dan keluaran.

BENTUK PROGRAM MENJAGA MUTU (QUALITY ASSURANCE)

Bentuk Program Menjaga Mutu dapat dibedakan atas tiga
jenis :
1) Program Menjaga Mutu Prospektif (Prospective Quality Assurance)
Adalah program menjaga mutu yang diselenggarakan sebelum pelayanan kesehatan. Pada bentuk ini perhatian utama lebih ditunjukkan pada standar masukan dan standar lingkungan yaitu pemantauan dan penilaian terhadap tenaga pelaksana, dana, sarana, di samping terhadap kebijakan, organisasi, dan manajemen institusi kesehatan.
Prinsip pokok program menjaga mutu prospektif sering dimanfaatkan dan tercantum dalam banyak peraturan perundang-undangan, di antaranya : Standardisasi (Standardization),perizinan (Licensure), Sertifikasi (Certification), akreditasi (Accreditation).
2) Program menjaga mutu konkuren (Concurent quality assurance)
Yang dimaksud dengan Program menjaga mutu konkuren adalah yang diselenggarakan bersamaan dengan pelayanan kesehatan.
Pada bentuk ini perhatian utama lebih ditujukan pada standar proses, yakni memantau dan menilai tindakan medis, keperawatan dan non medis yang dilakukan.
3) Program Menjaga Mutu Restrospektif (Retrospective Quality Assurance)
Yang dimaksud dengan program menjaga mutu restrospektif adalah yang diselenggarakan setelah pelayanan kesehatan.
Pada bentuk ini perhatian utama lebih ditujukan pada standar keluaran, yakni memantau dan menilai penampilan pelayanan kesehatan, maka obyek yang dipantau dan dinilai bersifat tidak langsung, dapat berupa hasil kerja pelaksana pelayanan .atau berupa pandangan pemakai jasa kesehatan. Contoh program menjaga mutu retrospektif adalah : Record review, tissue
review, survei klien dan lain-lain.

METODE YANG DIGUNAKAN PADA PROGRAM MENJAGA MUTU

Untuk mengukur dan menilai mutu asuhan dilaksanakan melalui berbagai metoda sesuai kebutuhan.
Metoda yang digunakan adalah :
1) Audit adalah pengawasan yang dilakukan terhadap masukan, proses, lingkungan dan keluaran apakah dilaksanakan sesuai standar yang telah ditetapkan. Audit dapat dilaksanakan konkuren atau retrospektif, dengan menggunakan data yang ada (rutin) atau mengumpulkan data baru. Dapat dilakukan secara rutin atau merupakan suatu studi khusus.
2) Review merupakan penilaian terhadap pelayanan yang diberikan, penggunaan sumber daya, laporan kejadian/kecelakaan seperti yang direfleksikan pada catatan-catatan. Penilaian dilakukan baik terhadap dokumennya sendiri apakah informasi memadai maupun terhadap kewajaran dan kecukupan dari pelayanan yang diberikan.
3) Survey dapat dilaksanakan melalui kuesioner atau interview secara langsung maupun melalui telepon, terstruktur atau tidak terstruktur. Misalnya : survei kepuasan pasien.
4) Observasi terhadap asuhan pasien, meliputi observasi terhadap status fisik dan perilaku pasien.

KEPUSTAKAAN

1. Dep. Kes. RI. Sistem Kesehatan Nasional, Depkes, Jakarta, 1982.
2. Rowland HS, Rowland BL.The Manual of Nursing Quality Assurance,Aspen Publication Inc, Rockville
, 1987.
3. Samsi Jacobalis. Menjaga Mutu Pelayanan Rumah Sakit, PT Citra Windu Satria, Jakarta, 1989.
4. Joint Commission on Acreditation on Health Care Organization, Primer on Indicator Development and
pplication, measuring Quality in Health Care,JCAHO, Oakbrook Terrace, III, 1990.
5. Nan Kemp, Richardson EW. Quality Assurance in Nursing Practice,Biddies LTD, London, 1990.
6. Donabedian A. Exploration in Quality and Monitoring Health Administration,Ann Arbor, Michigan, 1980.
7. Azrul Azwar. Standar dalam Program Menjaga Mutu, MKMI, 1993;
8. Azrul Azwar. Konsep Mutu dalam Pelayanan Kesehatan, MKMI, 1993;
9. Blum HL. Planning for Development and Application of Social Change Theory, Human Science Press, New
York, 1984.
10. Departemen Kesehatan RI. Standar Pelayanan Rumah Sakit, Depkes,Jakarta, 1992.
11. Emilie Beck, Joseph ED. Quality Assurance/Risk Management : The Nurses Prespective, Care
communication Inc, Chicago, 1981.
12. Ell MF, Ell JD. Quality Assurance Demystified, M.E. Medical Information System, Victoria Australia
1991.
13. Texas Hospital Association.Guidelinesto an Effective Quality Assurance Program, Texas Society for
Quality Assurance, Texas, 1984.
14. Wiorld Health Organization. The Principles of Quality Assurance, Report on WHO Meeting Barcelona,
1986.
15. Dep. Kes. RI. Modul Pelatihan Rumah Sakit, Mutu Pelayanan Depkes,Jakarta, 1992.

SUMBER : >> KLIK DISINI !! <<